Mengatur Pola Makan Saat Berbuka Puasa

Mengapa sebagian kita ketika puasa justru merasakan penyakitnya bertambah parah? Atau yang sebelumnya sehat menjadi sakit. Padahal seharusnya dengan puasa tubuh kita lebih sehat. Apakah salah puasanya atau kita yang salah dalam menjalankan puasanya?
Saudarku seiman,

Yakinlah apa yang Allah dan Rosul perintahkan pasti baik untuk kita. Hanya saja kitalah yang menjadi penyebab apakah perintah yang kita jalankan itu membuat kita bahagia, sehat, sejahtera atau kebalikannya.

Misal sedekah, adakah orang yang sedekah akan miskin (baca: merugi)? Jawabnya, ada. Karena bisa jadi cara bersedekahnya yang salah. Ingin dipuji orang, merasa hebat, menghardik/berkata tidak sopan kepada yang diberi, hal-hal tsb akan membuat sedekahnya tertolak, maka hikmah sedekahnya pun tak akan ia dapat. Bahkan bisa jadi kebalikannya, Allah membencinya karena syirik kecil dan kesombongannya.

Begitu juga puasa, pantaslah apa yang dikatakan rosulullah saw:

“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu majah)

Kenapa ini bisa terjadi, apa yang salah?

Tentu ada beberapa sudut pandang yang bisa menyebabkan puasa kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa mendapatkan pahala puasa, kepekaan sosial, taqwa, serta kesehatan jiwa dan raga. Yang akan dibahas pada kesempatan ini adalah dari sudut pandang kesehatan tanpa ada niat menutupi makna dari sudut pandang yang lain.

Saudaraku seiman,

Sebagian besar manusia berparadigma hidup untuk makan, sadar tidak sadar, terima tidak terima, bisa jadi kita bagian dari yang memiliki paradigma tsb. Makan memang sebuah kenikmatan, bahkan orang rela melakukan apa saja agar dapat memenuhi keinginan ini. Paradigma inilah yang sering kali kita terjerumus sehingga rusaklah pola makan kita yang berakibat rusak juga sistem pencernaan kita yang pada ujungnya rusak juga organ-organ tubuh kita yang lain.

“lambung bermasalah maka semua organ akan bermasalah.”

(HR. Thabrani)

Jika kita belum mempraktekan konsep di bawah ini, maka bisa jadi ‘hidup kita memang masih untuk makan’, bukan makan untuk hidup dan hidup untuk ibadah kepada Allah swt:

1. Makan hanya secukupnya,

“Hindarilah perut yang kenyang karena dapat merusak agama, menimbulkan penyakit, dan membuat malas dalam ibadah” ( HR Abu Nuaim )

“Orang beriman makan dalam 1 usus, sedangkan orang kafir makan dalam 7 usus.” (HR. Bukhori Muslim)

“Tempat paling jelek yang diisi oleh manusia adalah perutnya, cukup baginya makan beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggung, jika tidak dapat maka 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minumnya dan 1/3 untuk nafasnya” (HR. Tirmidzi)

2. Makan tepat pada waktunya,

“kami kaum yang tidak makan sehingga merasa lapar dan bila makan kami tidak sampai kenyang.” (HR. Abu Daud)

Saudaraku seiman,

Jika direnungi semua hadits di atas, kontennya adalah syarat mutlak dan solusi praktis bagi kita yang ingin memiliki tubuh sehat dan terhindar dari bermacam-macam penyakit. Inilah korelasi kenapa orang yang berpuasa tidak mendapatkan sehat dikarenakan pola makan saat berbuka dan sahurnya yang salah, terutama saat berbuka. Memang Rosul menganjurkan bersegera berbuka, namun tidak berarti kita bisa makan apa saja asal muat. Bahkan Rosul terbiasa berbuka puasa hanya dengan beberapa biji kurma saja.

Kita memang bersegera dalam berbuka, namun kita makan apa saja, teh manis hangat, es buah, kolak, gorengan, lalu makan besar. Padahal sebelumnya lambung kita sedang asik-asiknya dengan perut kosongnya.

Bayangkan, ketika Anda lama tertidur, tiba-tiba dibangunkan dan diperintahkan harus mengerjakan sesuatu yang banyak dan berat. Apa yang Anda rasakan? Kira-kira begitulah lambung dan usus kita ketika dipaksakan makan apasaja saat berbuka.

Kondisi ini tentu saja sangat ‘menyiksa’ lambung dan usus kita. Apakah ketika Anda tidak nyaman dengan kerjaan Anda, Anda bisa bekerja maksimal? Apakah jika dibiasakan pola kerja Anda penuh dengan tekanan, bagus untuk kesehatan Anda?

Maka ketika hal tsb masih kita kerjakan, pantaslah puasa kita tidak menyehatkan justru membuat kita sakit.

Hal yang sama ketika lebaran tiba. Sepertinya pelampiasan dari 1 bulan tidak makan dan minum. Apa saja yang ada di hadapan kita, di rumah kita, di rumah saudara yang kita kunjungi, apa saja itu kita makan.

Saudaraku seiman,

Padahal Allah beri kesempatan berpuasa 1 bulan ini dan dilanjutkan dengan puasa sunnah sawal dan senin kamis, kesemuanya adalah untuk kita. Untuk kesehatan tubuh kita. Jika Kesempatan ini dijalankan dengan benar insyaAllah menjadikan kita umat yang sehat dan kuat, sehingga ibadah semakin taat dan semangat.

Semoga ramadhan kali ini kita menang.

Apalah artinya sampai ke garis finish tanpa menyandang kemenangan

Allahu ‘alam bishshowab

Waroeng Sehat

agusuci

About agusuci

Customer Service : 0811-1155-911Lihat Alamat Kami